PPDB 2027/2028 Penerimaan Peserta Didik Baru Gelombang Utama Telah Dibuka!

UNIK DAN MELEGENDA: PATUNG PRIBUMI JAWA DI KELENTENG GIE YONG BIO LASEM SEBAGAI IMPLEMENTASI JASMERAH JANGAN SESEKALI MELUPAKAN SEJARAH DAN RESTROPEKSI TOLERANSI BERAKAR KOKOH

30 Agustus 2021 , , , , smamuhi 1188 Kali Dilihat 0 Komentar
UNIK DAN MELEGENDA: PATUNG PRIBUMI JAWA DI KELENTENG GIE YONG BIO LASEM SEBAGAI IMPLEMENTASI JASMERAH            JANGAN SESEKALI MELUPAKAN SEJARAH DAN                    RESTROPEKSI TOLERANSI BERAKAR KOKOH

Lasem

oleh, Ahmad Reva Dany Fawwaz

Lasem sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Rembang, terkenal dengan akulturasi budayanya yang kental dan keharmonisan antar umat beragama. Lasem sebagai kota pesisir terbentuk menjadi kota yang damai dan terhindar konflik  horisontal  akibat  masalah SARA. Pluralitas etnis, suku, ras, dan agama yang ada bukanlah menjadi hambatan melainkan sebuah keindahan dalam keberagamman bagi masyarakat Lasem.

Toleransi antar masyarakat sudah ditanamkan kuat oleh para leluhur yang menciptakan siklus kedamaian dan ketentraman di Lasem. Meski penduduk Lasem didominasi oleh masyarakat tionghoa, akan tetapi pada kenyataannya mereka dapat berbaur dengan masyarakat pribumi Jawa dan kalangan santri. Harmoni dan toleransi berjalan beriringan dengan baik.

Kini, Lasem juga dikenal juga sebagai Petit Chinois atau “Tiongkok kecil”. Jika kita menengok kembali ke belakang, julukan ini melekat kepada Lasem dikarenakan Lasem merupakan kota tempat pertama kali orang tionghoa mendarat di tanah Jawa dan tersebar luasnya kampung pecinan di Lasem. Berawal dari kedatangan Laksamana Cheng ho sebagai perwakilan diplomatik dari kaisar Tiongkong dengan maksud dan tujuan untuk menjadi mitreka satata dari Kerajaan Majapahit. Hingga pada akhirnya banyak dari mereka yang memilih menetap, berkeluarga dengan pribumi Lasem, dan tinggal di kota pesisir utara ini.

 Banyak dijumpai perkampungan dengan gaya tiongkok indis yang tersebar di Desa Karang Turi dan Desa Soditan. Di sana juga terdapat tiga kelenteng yang berdiri megah. Di antaranya Kelenteng Cu An Kiong, Kelenteng Gie Yong Bio, dan Kelenteng Po An Bio. Kelenteng Gie Yong Bio sebagai kelenteng yang sudah berumur lanjut memiliki keunikan yang hanya ada di kelenteng tersebut, yaitu terdapat patung seorang pribumi Jawa, berpakaian adat Jawa, dan diletakan di atas altar persembahan (Merdeka.com, 2021).

Tokoh yang tergamblang terpatungkan tersebut antara lain ialah Raden Panji Margono, seorang pahlawan pribumi Lasem yang ikut andil dalam peristiwa perang kuning pada tahun 1742, bersama laskar Dampo Awang.

Lantas bagaimana cara leluhur menanamkan kuat toleransi di Lasem? Apakah ada korelasi antar toleransi yang tertanam kokoh ini dengan peristiwa Perang Kuning oleh Raden Panji Margono? Siapakah Raden Panji Margono hingga diapresiasi masyarakat sampai dipatungkan disalah satu kelenteng tertua di Lasem? . Berikut selengkapnya :

 

Perang Kuning : Peristiwa Pengkokoh Rasa Persatuan Antara Umat Islam dan Tri Dharma di Lasem

            Perang Kuning adalah serangkaian perlawanan rakyat Lasem-Rembang dan sekitarnya terhadap kekuasaan VOC. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh pogrom terhadap orang keturunan tionghoa di Batavia yang menyebabkan migrasi besar-besaran etnis tionghoa dari Batavia ke Semarang dan Lasem, yang sering disebut dengan istilah ”geger pecinan”.

Terdegarnya berita itu oleh masyarakat Lasem membuat warga Lasem naik pitam, yang berujung rencana pemberontakan yang dipimpin oleh Oei Ing Kiat, Raden Panji Margono dan Tan kee Wie. Ketiganya mengangkat sumpah sodara. Mereka dikenal dengan sebutan Laskar Dampo Awang.

Meletusnya peperangan antara VOC dan pihak pemberontah tak tertahan lagi. Pasukan yang dipimpin Kyai Ali Badawi menghadang pasukan VOC dan Citrasoma, tetapi pasukan pemberontak mulai kewalahan dan satu persatu mulai tumbang dengan tembakan meriam dari kapal VOC.

Pertempuran jarak dekat melawan Belanda yang dipimpin oleh Raden Panji Margono di Narukan dan Karangpace. Pertempuran di Narukan ini menyebabkan perut bagian kiri Raden Panji Margono tersayat pedang, luka yang ditimbulkan cukup dalam sampai sebagian ususnya keluar. Karena kekurangan darah akhirnya Panji Margonopun wafat.

Berita duka ini terdengar hingga ke telinga Oei Ing Kiat yang menyebabkanya menjadi gelap mata. Hingga akhirnya tertembaklah dada Oei Ing Kiat oleh serdadu Ambon yang menyebabkan Oei Ing Kiat menyusul Raden Panji Margono.

Setelah gugurnya para pemimpin Laskar Dampo Awang, usailah sudah perjuangan pemberontakan melawan imperialisme dan kolonialisme Belanda di Lasem. Lasem jatuh di tangan Belanda. Hingga Pada tahun 1780, dibangunlah Klenteng Gie Yong Bio oleh etnis Tionghoa di Babagan untuk mengenang kisah bahaduri dari ketiga pemimpin pemberontakan Lasem. Klenteng ini terkenal dengan satu-satunya klenteng di Indonesia yang memiliki kongco pribumi.

Keunikan klenteng ini terletak pada salah satu atas altar yang terdapat patung seorang pribumi yang sedang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan dari blangkon, beskap, jarik batik, hingga canela yang merupakan penggambaran seorang pahlawan Lasem tempo dulu, yaitu Raden Panji Margono.

Budaya Unik dan Kaya Akan Nilai

            Patung keturunan Jawa di atas altar sembahyang umat tridharma merupakan keunikan sekaligus kejanggalan. Tempat sakral yang seharusnya ditaruh diatasnya sembahan umat konghucu ini malahan ditaruhkan sebuah patung bangsawan Jawa-Muslim. Akan tetapi, hal ini tidak akan janggal jika kita memahami konsepsi dan tujuan baik dari hal ini. Dalam agama Konghucu dikenal dengan sembahyang kepada leluhur.

Sumber: https://lensapena.id/2019/11/unik-ada-patung-bangsawan-jawa-di-klenteng-gie-yong-bio-lasem/

Konsep sembahyang kepada leluhur dalam agama Khonghucu adalah untuk menyatakan terima kasihnya yang berkesinambungan (Najibah, 2008). Jadi sembahyang ini bertujuan untuk mengapresiasi jasa dan berterima kasih atas perjuangan yang telah diamalkan oleh nenek moyang. Berarti dapat dianalisis bahwa masyarakat tionghoa Lasem telah menyadari akan pentingnya sembahyang kepada leluhur dan menjunjung tinggi toleransi. Umat Khonghucu tak pandang bulu dalam menghormati pendahulu mereka yang telah tiada. Oleh karena itu, Raden Panji Margono sudah dianggap leluhur mereka.

Pemahaman konsepsi seperti itu membuat altar unik di Lasem ini sudah bukan menjadi hal yang janggal dan kontroversial. Malahan kita dapat mengambil nilai keteladanan etnis Tionghoa Lasem yang benar-benar menjunjung tinggi toleransi, hingga pemahaman toleransi mereka diaplikasikan dalam sebuah ajaran sembahyang  dalam mengenang jasa para leluhur mereka.

Keteladanan Lasem Sebagai Model Kota Akulturatif

Tak salah jika Lasem merupakan salah satu contoh kota akulturatif yang harmonis. Masyarakat di Lasem paham betul akan konsep toleransi sehingga susah untuk dicerai berai. Dibuktikan dengan keadaan damai dan tetap tenang disaat kerusuhun rasial mei 1998 terjadi. Di mana pada masa itu kerusakan dan kekekarasan meraja lela di Jakarta, Solo dan daerah dominasi etnis Tionghoa lainya, betapa mengejutkanya di Lasem seperti tidak terjadi apa-apa.

Mayoritas masyarakat Lasem mengetahui esensi sebenarnya belajar dari sejarah nenek moyangnya. Mereka belajar sejarah untuk masa depan yang lebih cerah. Peristiwa demi peristiwa sejarah, dari kedatangan armada kapal Laksamana Cheng Ho hingga perjuangan heroik Laskar Dampo Awang telah teresapi dan tergali nilai-nilai luhurnya dan telah mereka patri dalam sanubari.

JASMERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah), itu pesan Bung Karno sebagai Bapak Proklamator Indonesia bagi generasi penerus bangsa ini. Sejarah layaknya ibu, yaitu bahwa dalam sejarah memberikan petuah-petuah, nasihat-nasihat serta pelajaran-pelajaran yang berharga di masa lalu untuk dijadikan pertimbangan dalam melangkah di masa depan.

Daftar Pustaka

Panji Kamzah. "Kitab Carita Sajarah Lasem". Ditulis ulang oleh R. Panji Karsono tahun 1920. Diunduh pada Perang Kuning/Perang Cina/Perang Lasem.

  1. Kisah Perjuangan Raden Panji Margono, Pahlawan Perang Kuning di Lasem diakses dalam https://www. merdeka. com/ , diakses pada 20 Agustus 2021

Najibah, N. 2008. Makna Sembahyang Kepada Leluhur dalam Konsep Agama Khonghucu. Skripsi. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tags: smamuhi
Dipost Oleh

Tinggalkan Komentar